full time web developer

I am full time web developer. i build many website for myself and clients. I learn how to build website by my self. I started when a was at high school. My fisrt site was blogspot site. I learn that if you want to build profesional website, you must use profesional domain. you have to use top level domain like .com, or .net.

My first profesional job is when i build website for international course on psycology UGM Yogyakarta. I was grateful got awesome project from start. That was good experience.

Now I have  Site that I managed on my own. It for my future company.

AqiqahNOW

AqiqahNOW adalah sebuah perusahaan yang berfokus pada pelayanan aqiqah untuk keluarga muslim yang baru memiliki bayi. aqiqah wajib dalam islam. sehingga aqiqah now hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. tidak perlu repot beli kambing sendiri, aqiqahnow siap untuk membelikan menyembelih dan memasak serta membagikan kambing untuk keperluan aqiqah anda.

Quthubm

quthubm adalah website pribadi saya. saya ingin menjadi seorang blogger yang bisa menuliskan apa saja di web saya. saya suka tema-tema keuangan sosial politik ekonomi sains peternakan maupun percintaan. ini adalah wadah untuk saya berbagi cerita kepada dunia. semoga bisa menjadi jalan terbaik untuk bermanfaat pada dunia.

Sinauternak

Sinauternak adalah portal informasi untuk ilmu peternakan di indonesia. website ini mengulas berbagai macam informasi peternakan , baik tips dan trik maupun informasi teknologi. Sinauternak.com adalah situs belajar dan berbagi ilmu ternak masa kini. Menghadirkan sajian ilmu dan teknologi peternakan terbaru.

Internet marketing journal

Tahun 2019 ini saya memulai sebuah web informasi untuk digital marketing yaitu internet marketing journal. situs ini berfokus pada tips dan trik serta berita terbaru mengenai pemasaran digital. internet marketing journal menjadi rujukan bagi digital marketer indonesia,.

Infomedika

Infomedika adalah situs portal informasi kesehatan masyarakat indonesia. situs ini membahas mengenai berita dan teknologi baru dunia medis. banyak hal yang disajikan seperti macam-macam alat medis dan alat rumah sakit.

Solusi Rumah

Solusi rumah adalah website yang bergerak pada jasa arsitek dan kontraktor rumah. website ini menyajikan informasi mengenai info properti dan real estate. solusi rumah adalah solusi lengkap permasalahan perumahan indonesia.

HMI Sleman

Hmi Sleman adalah organisasi mahasiswa paling berpengaruh di sleman. HMI sendiri telah berdiri sejak 70 tahun lalu. HMI Sleman membawahi kampus besar seperti UGM dan UPN.

Salsabila Jasa Qila

Salsabila Jasa qila adalah perusahaan kontraktor kolam renang terkemuka di indonesia. Sudah berpengalaman lebih dari 20 Tahun menangani pembuatan kolam renang untuk rumah hotel villa. Dengan layanan jasa pembuatan kolam renang bergaransi 7 tahun, anda bisa mempercayakan kepada salsabila jasa qila.

Asa Mandiri

CV asa mandiri adalah perusahaan penyedia outsourcing Jogja terkemuka. melayani outsourcing pada bidang cleaning service dan satpam. anda dapat mempercayakan kebutuhan kantor anda kepada asa mandiri. Dapatkan tenaga kerja profesional yang murah untuk kantor anda.

ALK Logistik

ALK Logistik adalah perusahaan jasa ekspedisi surabaya. selain ekspedisi, alk logistik juga melayani sewa truk surabaya dan jasa pengiriman barang besar. anda dapat juga pindahan kantor atau rumah menggunakan layanan dari ALK Logistik.

AGM Medica

AGM Medica adalah perusahan distributor alat kesehatan. AGM Medica menyedikan berbagai alat-alat medis dan laboratorium untuk keperluan dunia kesehatan. mulai dari ptient monitor, ecg, dan lain sebagainya. harganya murah dan terjangkau.

Kanal Jasa

Kanal jasa adalah portal informasi jasa apa saja. disini kamu bisa mencari jasa tukang ledeng sampai tukang cat. kamu juga bisa menemukan berbagai solusi untuk permasalahan ruamh tangga atau bisnis anda. percayakan saja kepada kanal jasa kami.

Jasa Iklan Gratis

jasa iklan gratis adalah layanan dari matob grub bagi anda yang ingin mempromosikan website anda. disini bisnis anda akan diulas dan direview positif supaya website anda dapat mendapat kepercayaan konsumen dan disini kamu juga bisa menanam backlink menuju website kamu.

Matob Creative Studio

Matob Creative studio merupakan studio desain grafis, jasa pembuatan website dan digital marketing yang berbasis di Sleman, DI Yogyakarta. Misi kami adalah membantu pelaku bisnis memiliki website dan sosial media yang terformat rapi sebagai perwajahan dan kantor digital di dunia maya saat ini. Mari berkolaborasi!

Gardaseo

Gardaseo merupakan perusahaan digital marketing yang berfokus pada search engine optimization atau jasa seo . gardaseo adalah duplikat dari matob. dimana saat ini saya sedang berusaha membuat second company agar saya bisa bertahan di dunia digital marketing. maju terus gardaseo!

Bacakuy

Bacakuy adalah situs web review buku. web ini mereview banyak buku dari buku sosial buku sejarah buku politik dan filsafat. banyak reviw buku yang bisa anda baca disini. kamu bisa baca sesuka kamu kapan pun kamu mau. sebelum beli buku baru baiknya kamu membaca dulu reviewnya di bacakuy.net.

2019 Goal of Me : Matob, gardaseo, quthubm, bacakuy, aqiqahnow & sinauternak.

I am full time web developer. i build many website for myself and clients. I learn how to build website by my self. I started when a was at high school. My fisrt site was blogspot site. I learn that if you want to build profesional website, you must use profesional domain. you have to use top level domain like .com, or .net.

My first profesional job is when i build website for international course on psycology UGM Yogyakarta. I was grateful got awesome project from start. That was good experience.

Now I have 6 Site that I managed on my own. It for my future company.

Matob Creative Studio

Matob Creative studio merupakan studio desain grafis, jasa pembuatan website dan digital marketing yang berbasis di Sleman, DI Yogyakarta. Misi kami adalah membantu pelaku bisnis memiliki website dan sosial media yang terformat rapi sebagai perwajahan dan kantor digital di dunia maya saat ini. Mari berkolaborasi!

Gardaseo

Gardaseo merupakan perusahaan digital marketing yang berfokus pada search engine optimization atau jasa seo . gardaseo adalah duplikat dari matob. dimana saat ini saya sedang berusaha membuat second company agar saya bisa bertahan di dunia digital marketing. maju terus gardaseo!

Bacakuy

Bacakuy adalah situs web review buku. web ini mereview banyak buku dari buku sosial buku sejarah buku politik dan filsafat. banyak reviw buku yang bisa anda baca disini. kamu bisa baca sesuka kamu kapan pun kamu mau. sebelum beli buku baru baiknya kamu membaca dulu reviewnya di bacakuy.net.

AqiqahNOW

AqiqahNOW adalah sebuah perusahaan yang berfokus pada pelayanan aqiqah untuk keluarga muslim yang baru memiliki bayi. aqiqah wajib dalam islam. sehingga aqiqah now hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. tidak perlu repot beli kambing sendiri, aqiqahnow siap untuk membelikan menyembelih dan memasak serta membagikan kambing untuk keperluan aqiqah anda.

Quthubm

quthubm adalah website pribadi saya. saya ingin menjadi seorang blogger yang bisa menuliskan apa saja di web saya. saya suka tema-tema keuangan sosial politik ekonomi sains peternakan maupun percintaan. ini adalah wadah untuk saya berbagi cerita kepada dunia. semoga bisa menjadi jalan terbaik untuk bermanfaat pada dunia.

Sinauternak

Sinauternak adalah portal informasi untuk dunia peternakan di indonesia. website ini mengulas berbagai macam informasi peternakan , baik tips dan trik maupun informasi teknologi. Sinauternak.com adalah situs belajar dan berbagi ilmu ternak masa kini. Menghadirkan sajian ilmu dan teknologi peternakan terbaru.

 

Website List for you

Theotraphi.com

quraneducenter.com

hmisleman.org

ahimsawardah.com

bacusaleather.com

gudangkayushop.com

arkamaya-grhatama.com

bacakuy.net

muhsinalanas.com

bungkomar.id

alklogistik.com

jualcasinghp.com

fadjarmulya.com

sinauternak.com

svarabhuvi.com

bymalio.com

indocase.site

indocase.net

satoloka.com

citanusantara.com

respatiagus.com

salsabilajasaqila.com

inside.or.id

icfst2019.org

quthubm.com

ralalii.com

gudangkayuind.com

imamsujangi.com

gardaseo.com

agmmedica.com

jogja-wisata.com

 

11 Fitur Terlarang yang Dapat Merusak User Experience Website Anda

Halo netizen! Kali ini matob creative studio, Jasa Pembuatan Website Jogja ingin berbagi tips desain website yang berjudul: Larangan Desain Web: 11 Fitur yang Dapat Merusak Pengalaman Pengguna (User Experience).Semoga bermanfaat ya untuk pembaca.

11 Fitur Terlarang dalam Desain Website Modern 2019

Tampilan situs web Anda dapat melakukan atau menggagalkan proses transaksi. Jika tidak menarik, mutakhir, atau ramah pengguna, konsumen akan cepat mencari di tempat lain. Anda membutuhkan situs Anda untuk membuat kesan besar pada pelanggan potensial dan memberikan pengalaman pengguna yang mudah dan memuaskan (UX).

Situs web modern dapat menampilkan banyak fitur visual mencolok yang dirancang untuk memukau pengunjung. Meskipun mungkin tergoda untuk menerapkan serangkaian “lonceng dan peluit” ini, fitur-fitur asing ini dapat mengintimidasi konsumen atau mempersulit mereka untuk menavigasi situs Anda. Di bawah ini adalah  11 fitur situs web yang kami sarankan untuk dihindari.

1. Autoplay Video

Video yang diputar secara otomatis sangat mengganggu visitor.  Jika Anda membuat video yang menarik dan memasarkannya, orang akan memutarnya. Saya tidak pernah mendapati diri saya berkata, “Hei, terima kasih sudah memulai video itu untuk saya — saya tidak akan pernah berpikir untuk memutarnya.” Video adalah alat yang sangat ampuh — jangan memaksakannya untuk pengunjung dan pelanggan potensial Anda.

2. Intrusive Pop-Ups

Sangat membantu untuk memiliki pop-up, terutama untuk memberi tahu pengunjung bahwa mereka dapat berbicara dengan seseorang atau mengajukan pertanyaan, tetapi ketika itu terus muncul di setiap halaman atau dengan setiap gulir, pengunjung mulai menjadi frustrasi, terutama ketika menggunakan situs seluler. Cobalah untuk membatasi ini dan temukan cara lain untuk memberi tahu mereka bahwa Anda ada untuk mereka.

3. Homepage Video Backgrounds

Beberapa tahun yang lalu, beberapa situs web terkemuka seperti LinkedIn memutuskan akan menjadi ide bagus untuk memutar video secara otomatis di latar belakang situs mereka. Sayangnya, karena evolusi, manusia melihat gerakan dalam penglihatan tepi dan mudah terganggu olehnya. Dengan demikian, itu sangat mengganggu dan membuat orang menjauh dari ajakan Anda untuk bertindak. Jangan lakukan itu.

4. Dropdown Menus

Menu dropdown adalah jenis menu yang terburuk. Jika Anda pernah memiliki pengalaman frustasi dalam menyoroti istilah pencarian Anda dan kemudian menggulir ke menu lain, tetapi beralih dari itu dan menghilang, maka Anda tahu apa yang saya maksud. Alih-alih, simpan dropdown di sidebar agar pelanggan selalu tahu di mana mereka berada di situs web dan tidak akan memiliki pengalaman yang membuat frustrasi.

5. Large, Slow-Loading Images

Meskipun gambar yang sesuai penting untuk situs web profesional, Anda harus memastikan untuk menghindari gambar berukuran file besar dan, kadang-kadang, menggeser gambar. Situs pemuatan lambat dapat menyebabkan pengunjung mengklik dengan cepat.

6. ‘Surprise’ Interactions

Anda mulai membaca atau menggulir, dan kemudian Anda menekan dengan formulir pendaftaran iklan, grafik, video atau milis. Interaksi ini tidak hanya mengganggu pengguna, tetapi mereka juga merasa memaksa dan batas scammy. Sementara mendorong konversi dan keterlibatan adalah tujuan utama banyak situs web, menginterupsi pengguna dengan konten dan kejutan yang dipicu secara otomatis adalah poin utama dari gesekan UX.

7. Autostart Audio

Mengaktifkan suara dengan konten video apa pun atau pop-up dapat menciptakan pengalaman pengguna yang mengerikan. Bayangkan membuka sebuah situs tanpa mengetahui bahwa suara Anda penuh dan ada orang yang membunyikan pesan yang didengar keluarga, teman, atau rekan kerja Anda. Dengan 85% video daring yang dikonsumsi tanpa suara, penting untuk menghindari gangguan pengalaman pengguna Anda dan mengimplementasikan subtitle dan suara secara default.

8. Continuous Scroll

Hindari pengguliran terus menerus di situs web. Fitur ini ada di Twitter, Instagram, dan Facebook: Ketika Anda menggulir umpan ke bawah, konten baru muncul di bagian bawah halaman secara otomatis. Meskipun fitur ini bagus untuk media sosial, dalam kasus lain, pengguliran yang panjang / terus-menerus membuat orang frustrasi bahwa mereka tidak akan pernah mencapai akhir halaman atau mungkin kehilangan sesuatu yang tidak dapat mereka lihat di bawah.

7. Features That Attempt To ‘Outsmart’ Users

Situs web yang mencoba untuk “mengakali” penggunanya dengan fitur-fitur seperti mengesampingkan perilaku pengguliran standar browser, memblokir tombol mouse kanan atau tindakan clipboard, atau memodifikasi riwayat browser dapat menyebabkan pengalaman pengguna yang sangat frustasi. Situs Anda mungkin unik, tetapi memaksa pengguna Anda untuk “mempelajari kembali” cara menggunakan situs Anda hanya menyebabkan pengabaian dan kehilangan konversi.

8. Aggressive Chatbot Messages

Chatbots memiliki banyak aplikasi — banyak di antaranya bagus. Tapi hati-hati dengan cara Anda menggunakannya. Apa yang Anda pikir dapat membantu situs web Anda tampak lebih intuitif, membantu, dan pribadi dapat membuat pengunjung Anda tidak bahagia dan merasa terlalu sibuk di situs web yang berantakan dengan pesan yang merupakan robot yang menyakitkan.

9. Too Many Calls To Action

Ketika situs Anda memiliki terlalu banyak ajakan untuk bertindak, pelanggan menjadi bingung di mana mereka perlu mengklik berikutnya. Alih-alih dibujuk untuk mengklik tombol Anda, banyak orang hanya akan kewalahan dan pergi. Salah satu tip adalah memiliki satu panggilan besar untuk bertindak per layar yang terlihat. Ini berarti Anda dapat memiliki tombol ajakan bertindak lain di bawahnya ketika pengguna menggulir dan yang pertama menghilang.

10. Desktop-Centric Design

Coba hindari pembuatan terlalu banyak halaman dan terlalu banyak konten per halaman. “Ringkas” adalah kata kunci ketika datang ke situs web profesional. Bagi sebagian besar perusahaan, lalu lintas seluler telah mengambil alih lalu lintas desktop, dengan persentase lalu lintas seluler masih terus bertambah. Jika Anda baru memulai situs web baru, Anda harus membuatnya untuk perangkat seluler terutama dan mencoba menjaganya agar tetap ramah-desktop.

11. Too Much Text

Situs web tidak membutuhkan paragraf bahasa berbunga-bunga. Situs web adalah alat. Langsung ke intinya, tetap sederhana, hindari jargon industri dan kata kunci, dan beri tahu kami apa yang Anda lakukan, mengapa kami harus peduli dan bagaimana mendapatkan detail lebih lanjut jika diinginkan.


Demikian artikel Larangan Desain Web: 11 Fitur yang Dapat Merusak Pengalaman Pengguna (User Experience), semoga bermanfaat bagi anda. Jangan lupa untuk membuat website di jasa pembuatan website jogja – Matob Creative Studio

In Papua, Indonesia, a Visit to the Welcoming Dani People

The thatched-roof homes of Wesagalep lay at cloud level, high above the Baliem Valley in Papua, the Indonesian side of the island of New Guinea. They are built on about six terraced levels of the mountain, with startling views of the valley and down to the rushing river below.

The views, and the opportunity to spend a night with the Dani people who live there, are reason enough to endure the rugged four-hour hike from the village of Tangma, the closest you can get by vehicle.

But by chance, my temporary travel companion, a 27-year-old Indonesian-speaking Romanian named Cristian, had arrived with me at the village the day before a pig-slaughtering ceremony. The reason was sad — the death of a 30-year-old village member — but we had been told that no matter what, if we found ourselves invited to a Dani ceremony, we should accept.

We had slept fitfully the night before on the wood floor of the village office, for which we paid 100,000 rupiah each ($7.57, at 13,207 rupiah to the dollar), and spent the morning horsing around with the boys of the village, who were shockingly accurate in hurling blades of thick grass and hitting us directly in the chest, which they found quite hilarious.

I wondered if the children’s accuracy was a result of the Dani people’s well-documented war traditions, but before we could ask, the mood turned serious. Men and boys started to gather outside one of the homes, known as honai, and women around another, maybe 40 yards away and one terrace down. We were awaiting the ceremony.

Men in single file lugged twisted logs of firewood, intended for a pig roast. Other men sat, smoking hand-rolled cigarettes, dressed mostly in T-shirts and knee-length shorts. Some boys sat talking with Cristian — the Dani learn Indonesian in school — as a few others idly played with my leg hair, often a hit in less hirsute parts of the world.

The Dani, sometimes insultingly portrayed as “stone-age” people, are in some ways stuck between the ancient and modern worlds. The valley settlements, wedged as they are between massive mountains, were not even noticed by colonial authorities until the American zoologist Richard Archbold flew over them in 1938. The intervening decades brought missionaries and Christianity, colonial efforts to restrict their inter-village wars and, more recently, Indonesian human rights abuses and a Papuan separatist movement.

But for travelers willing to hike several grueling hours and sleep on a hard floor, visiting the Dani can be a welcoming experience. If you have an Indonesian speaker with you as I did (or, for travelers with slightly higher budgets, a Dani-speaking guide who can be booked in advance through tour operators or at hotels in Wamena, where visitors to the valley fly in), the Dani are very accustomed to visitors and willing to speak openly and at length about their lives, down to some fascinating details. For example, men and women sleep in different huts even after marriage (yet share those huts with pigs), and until recently, women had the tip of a finger amputated every time a relative died.

We had been urged to seek out the ceremonies by Markus Lageder, a German-Italian who, along with his Indonesian wife, Theodora, hosts visitors in a spare room in Wamena, a rather wretched, low-slung town of 30,000. The mattresses go for 150,000 rupiah a night.

Cristian had found Markus online (he lists the room on Airbnb). And I found Cristian in the airport at Jayapura, Papua’s provincial capital, en route to Wamena and glommed on, happy to cancel a last-minute hotel reservation I had made for four times as much.

The couple obviously love having visitors and were preposterously generous. While Theodora was at work (for for a non-governmental organization), Markus essentially dedicated his day to helping us organize for our trek. He lent me camping equipment and took us to the supermarket, helping us choose food for ourselves (instant noodles, Beng Beng chocolate bars) and the required gifts for villagers (coffee, tea, cigarettes and peanuts for the children).

He also took us to see the strange fruits, dog meat and penis sheaths for sale at the Jibama Market, the town’s traditional marketplace. (The local men we met were not wearing traditional penis gourds, called koteka in Indonesian; we found that only old men wore them, though everyone proudly reverts to traditional dress during the Baliem Valley Festival, held each August for large tourist crowds.) A locally written tourism guide Markus had at home made it clear in mangled English that the market was basically a required stop: “If you do not visit, I would like to say that you are lose out man.”

A small compound on the outskirts of Wamena, on the road from the Baliem Valley resort.CreditAndy Haslam for The New York Times

As if the couple were trying to set a record for cost-benefit ratio in a homestay, Theodora cooked us a magnificent dinner of sliced beef, whole fish, mustard greens and bean sprouts.

The next morning, we caught a surprisingly shiny Mitsubishi Triton to Tangma. The fare was 80,000 rupiah for most passengers, though those who sit in front rather than the dusty bed of the truck pay 100,000. When no one came to take those spaces, we were the obvious choices to upgrade, and obliged. We ended up giving the seats to two perplexed older women, who probably couldn’t imagine why anyone in his right mind would prefer the crowded back; we, of course, couldn’t imagine being anywhere else.

From Tangma, the map showed us descending to the river, crossing and heading up to Wesagalep. The hike down started out quite pleasantly — mostly a decline on wide paths, past a mix of thatched and tin-roofed houses and neatly tended sweet potato patches. Occasionally we would have to scale a rock wall using what I found to be cleverly simple wood ladders, scored logs laid diagonally — perfect for keeping pigs in but letting humans out.

We soon came to Wamerek, the first truly traditional-looking village, where a man instantly invited us in for a ceremony. But something didn’t add up — his invitation had been too quick and polished — and Wamerek, we knew, was the most accessible traditional village. It seemed like a made-for-visitors show, one we suspected would cost us more than necessary.

We moved on, and, as we approached the river, the path became narrower and steeper. I would call it treacherous and slippery, but that would be embarrassing, since we passed so many Dani who bounded along in bare feet as we struggled. A hanging suspension bridge made of metal cables and wood slats awaited us at the bottom, and we crossed tentatively as the bridge swayed. I struck my most confident pose for Cristian to take a picture, but admit that though my face said, “piece of cake,” my body language said, “Get me off this thing.” We arrived in Wesagalep in plenty of time to watch clouds descend, erasing the village’s magnificent view, leaving us feeling perfectly isolated from the world.

At the gathering the next morning, without ado, a small group of men and one woman stood in a circle before us and began to sob. Villagers began to bring pigs over and, each time, a member of the group would run back and forth with a spear, repeating a word that I did not understand. It would have been a good time for a guide; we had little idea what was going on.

Soon visitors appeared, wending their way down a steep hill, bearing more pigs. One was dead, slung over a man’s shoulder; another was hogtied and hanging from stick. And there were several squealing suckling pigs; when they arrived they were handed over to village children who seemed to delight in soothing the pigs while also clamping their mouths closed.

Attention shifted to an enclosure on an adjacent terrace below. The biggest hog of all had been let loose (it was not clear if on purpose), and a grizzled older man, maybe in his 50s, stalked him with a massive, traditional bow and arrow as everyone watched. He shot him in the midsection, almost point blank and the pig died in seconds: It was a poison barb. Then it was the suckling pigs’ turns. Two men held them aloft and a third took aim. One pig writhed out of the holder’s hands after being shot and peeled off toward a cliff, as if it were a suicide run. That led to a scramble, but eventually it was captured.

As the men began to burn the hair off the pigs — a necessary step before skinning and butchering — we decided to go. Cristian’s vegetarianism played a role in the decision, as did my need to catch a plane. So we said goodbye and thanked everyone and headed up the steep hill the pigs had been brought down — the path that wound up and down mountains and across rivers to Wuserem, our next destination, supposedly about three and a half hours away.

When we reached the village above, already panting, we stopped for a makeshift lunch of peanuts, figs and biscuits, and were joined by a group of villagers who had come up from the ceremony practically right behind us. Local custom made it unthinkable not to share our food, so we did, except for our valuable box of Beng Beng bars, which I ruthlessly hid in my bag.

The group was heading in the same direction as we were — straight up. Cristian asked where they were going. It turned out one was headed to the highest point in the region to try to get a cellphone signal. The others carried bows and arrows; I wondered if they were going hunting.

The next stretch was brutally difficult, resembling not so much a path as a stone-and-root staircase heading straight up through the woods. Our companions’ breakneck pace didn’t help, but we needed to keep up: They had promised us a clean stream above to refill our water supply.

There was no cell signal at the top, alas (I had been looking forward to it as well), but we did get a lesson in different kinds of wooden arrows: barbed for killing wild pigs; four-pronged for birds; a simpler arrow for cuscus, a rather cute rodent; and another kind he did not explain. I wondered if it was for humans — the Dani until not too long ago would frequently go to war between villages. That is more rare now, though they still stage mock wars in the August festival.

We didn’t make it to Wuserem, but instead stayed that night in a village called Togoluk, and split up the next day. Cristian’s flight was one day later than mine, and he would go exploring. I hiked on a path high across the valley before descending past more villages to another shaky bridge and entering Kurima, where there was transport back to Wamena. I was surprised to find a military base there — a good reminder that what I had just seen was not an idyllic, isolated region, but a place with a complicated past and, probably, a complicated future.

https://www.nytimes.com/2015/08/06/travel/papua-indonesia-frugal-traveler.html

Bulan Agustus Banyak Festival Keren di Papua

PAPUA – Bulan Agustus waktu tepat mengunjungi Papua karena bisa melihat atraksi unik di Festival Lembah Baliem.

Festival Lembah Baliem digelar pertama kali pada tahun 1989. Festival ini merupakan acara perang antara suku Dani, Lani dan Yali, namun aman untuk dinikmati.

Karenanya, selama festival berlangsung kita wajib menyiapkan kamera dengan memori berkapasitas besar. Kita akan menyaksikan pertempuran antara suku Dani, Yali dan Lani saat mereka mengutus prajurit terbaik ke arena perang.

Selain itu, banyak atraksi-atraksi unik yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Misalnya, pertunjukan pikon atau alat musik tradisional yang mengisahkan kehidupan manusia.

Kemudian, kita juga dapat menyaksikan karapan babi yang manjadi atraksi menarik. Atraksi karapan babi ini biasanya selalu menimbulkan keriuhan di antara peserta dan penonton.

Selanjutnya, kita dapat menyaksikan perlombaan memanah dan melempar tongkat ke sasaran. Kemudian, acara akan dilanjutkan dengan perlombaan puradan, yaitu menggulirkan roda dari anyaman rotan.

Selanjutnya, kita bisa menyaksikan atraksi sikoko, yaitu perlombaan melempar pion ke sasaran. Perlombaan-perlombaan tersebut dapat nikmati dan lihat secara langsung.

Semakin lama festival berlangsung, maka suasana perang dengan tombak, parang, dan panah yang menghantam lawan akan semakin dekat dan seru. Semakin banyak tombak yang meleset maka semakin keras sorakan dari ratusan penonton.

Setelah itu, Festival Baliem akan dimeriahkan dengan pesta babi yang dimasak di bawah tanah. Pesta ini semakin meriah karena disertai musik dan tari tradisional khas Papua.

Ada juga seni dan kerajinan buatan tangan yang dipamerkan atau untuk dijual. Jadi, selama Festival Baliem berlangsung, kita hanya perlu mengamati dan menikmati perang sambil memotret. Demikian dikutip Indonesia.travel.

(jjs)

Tradisi Bakar Batu, Wujud Rasa Syukur Masyarakat di Papua

Banyak suku di Papua yang masih memegang teguh tradisi yang diwariskan nenek moyang. Salah satunya adalah tradisi bakar batu. Sekilas memang mengherankan. Untuk apa repot-repot membakar batu?

Tentu, membakar batu di Papua bukan dilakukan karena iseng. Masih dilangsungkan oleh suku-suku yang menghuni Lembah Baliem, Paniai, Nabire, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Dekai, Yahukimo, dan daerah lain, tradisi batu bakar merupakan bentuk rasa syukur.

Ya, ritual itu dilakukan untuk mengumpulkan warga satu kampung dan prajurit perang untuk bersama-sama bersyukur dan berbahagia. Batu yang telah dibakar hingga membara digunakan untuk memasak daging babi hasil buruan.

Tradisi bakar batu punya nama berbeda pada tiap-tiap daerah yang melangsungkannya. Misalnya di Paniai, ritual itu dinamakan Gapila, di Wamena dinamakan Kit Oba Isogoa, dan di Jayawijaya dikenal sebagai Barapen.

Prosesnya kurang lebih begini. Batu-batu berukuran besar dibakar dalam perapian dengan kayu-kayu. Kayu akan habis terbakar hingga batu menjadi panas membara. Kemudian, batu akan dipindahkan ke dalam lubang dalam tanah yang telah dibuat.

Batu akan diletakkan di dasar lubang, lalu di atasnya ditumpuk daging babi yang akan dimasak. Tak harus babi, daging ayam, sapi atau ubi pun boleh. Lubang kemudian ditutup dengan daun-daun pisang. Tunggu hingga daging matang dan dapat dinikmati bersama-sama.

Selain sebagai bentuk rasa syukur, tradisi bakar batu juga diyakini dapat menguatkan rasa kebersamaan. Warga yang terlibat akan merasa lebih dekat dengan proses memasak bersama.

Oleh karena itu, ritual tersebut kini tak hanya dilakukan mengumpulkan warga kampung. Namun juga dihelat untuk menyambut tamu dari luar, seperti kepala daerah, gubernur, dan lain-lain.

Bagaimana rasa daging yang dimasak dengan batu bakar? Pernah mencoba rasanya? Yuk, bagi pengalamanmu di kolom komentar!

Ritual Iki Palek, Simbol Cinta Bagi Suku Dani di Papua

Setiap suku di seluruh dunia memiliki tradisi yang berbeda-beda. Salah satu yang menarik perhatian adalah Suku Dani yang terletak di Papua.

Suku yang bermukim di Lembah Baliem, Papua ini memiliki cara yang ekstrem untuk mengekspresikan bukti cinta kepada kerabat atau keluarga yang meninggal.

Mereka memotong satu ruas jarinya sebagai bentuk kesetiaan terhadap orang terdekatnya yang meninggal. Pemotongan jari juga diartikan sebagai rasa sakit yang luar biasa. Tradisi ini disebut dengan Ritual Iki Palek.

Mereka pun sadar jika ritual ini sangat menyakitkan. Namun, mereka rela melakukan apa saja demi bukti cinta terhadap pasangan.

Ritual Iki Palek dilakukan oleh wanita saja. Jadi, ketika kerabat dekat, suami atau anak meninggal maka jari mereka akan dipotong.

Jangan heran jika melihat jari ibu-ibu di sini banyak yang terputus. Hal ini menandakan jika banyak kerabat dekat yang telah meninggal.

Untuk memotong ruas jari mereka menggunaka kapak atau pisau tradisional. Bahkan tak jarang mereka menggigit jari mereka sendiri hingga terputus.

Jari diartikan sebagai simbol kerukunan, kesatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun keluarga.

Kaum adam suku Dani juga melakukan hal yang sama apa bila kehilang orang terkasih. Namun mereka tak memotong jari, melainkan daun telinga. Alat yang digunakan untuk memotong daun telinga adalah bambu tajam.

Ritual Iki Palek sudah ada sejak zaman dahulu. Mereka tetap melestarikannya mesti ritual ini dirasa ekstrem bagi beberapa orang.

Kepala Suku Dani di Papua yang Bisa Menghentikan Hujan

Wamena – Suku Dani di Lembah Baliem, Papua kaya akan tradisi dan budaya. Kepala Suku Dani di Kampung Anemaugi, mampu berkomunikasi dengan alam dan menghentikan hujan. Percaya tidak percaya…

Saat bertandang ke Kampung Anemaugi di Lembah Baliem, Papua, Rabu (16/9/2015) detikTravel bersama rombongan Mahakarya Indonesia disambut langsung oleh kepala Suku Dani yang bernama Yali Mabel. Mengenakan koteka dan berbagai atribut kepala suku, Pak Yali dengan ramah menyalami setiap anggota rombongan.

Uniknya, sesekali Pak Yali menyebutkan kata ‘welcome’ dan ‘thank you’ saat menyambut beberapa teman rombongan. Berdasarkan cerita dari Pak Yali, beliau sering menyambut turis asing yang datang. Tidak hanya itu, Pak Yali juga sudah pernah pergi ke Jerman dan Spanyol untuk mempromosikan Lembah Baliem lho.

Namun tidak berapa lama setelah saya dan rombongan disambut oleh Pak Yali, mendadak hujan turun dan membasahi Kampung Jiwika. Melihat hujan yang turun, seketika Pak Yali meneriakkan bahasa Suku Dani sambil melihat ke langit. Sesekali beliau juga mengangkat panahnya ke arah langit.

“Pak Yali sedang melakukan Mio Yo Gorio atau bicara sama alam untuk menghentikan hujan,” ujar pemandu rombongan Mahakarya yang bernama Herriman Sihotang.

Ajaib! Hujan pun perlahan mereda ketika Pak Yali selesai melakukan ritual Mio Yo Gorio. Walau awan mendung masih tampak di langit, tapi hujan seakan ditahan dan berhenti sementara waktu. Setelah itu barulah Pak Yali Mabel melakukan atraksi tarian perang bersama pemuda Kampung Jiwika untuk menyambut tamu rombongan.

“Tradisi itu adalah apa yang dilakukan oleh Suku Dani sebagai bentuk upacara bagi leluhur,” tambah Herriman.

Tradisi adat memang merupakan suatu hal yang sakral dan terus dilakukan oleh Suku Dani. Ritual Mio Yo Gorio merupakan salah satu bukti otentik akan kuatnya pengaruh adat dan budaya Suku Dani di Papua. Itu pun hanya salah satu dari sekian banyak kearifan budaya di Bumi Cendrawasih.

Fakta unik lainnya, Pak Yali mempunyai dua orang anak laki-laki yang menuntu ilmu di Akademi Kepolisian atau Akpol. Satu putranya sudah jadi perwira di Kalimantan, sedangkan satunya lagi masih kuliah di Akpol Semarang.

Tentunya perjumpaan dengan Pak Yali Mabel mengajarkan banyak ilmu. Sejatinya tradisi dan adat bukan jadi penghalang Suku Dani untuk menimba ilmu dan melangkah lebih jauh. Malah adat dan budaya harus terus dilestarikan dan jaga untuk anak cucu. Sehat selalu Pak Yali Mabel!

(rdy/Aditya Fajar Indrawan)

https://travel.detik.com/domestic-destination/d-3027090/kepala-suku-dani-di-papua-yang-bisa-menghentikan-hujan

Mengenal Wim Motok Mabel, Mumi Berusai Ratusan Tahun dari Papua

MENDENGAR kata mumi mungkin pikiran kita akan langsung tertuju pada Negara Mesir. Saking terkenalnya mumi di sana, jenazah yang diawetkan melalui berbagai proses tersebut memiliki film solonya sendiri.

Namun, mumi bukan hanya milik Mesir. Di berbagai negara lain juga punya mumi sendiri tanpa terkecuali Indonesia. Di Distrik Kerulu, kawasan Lembah Baliem, terdapat mumi yang usianya sudah 284 tahun.

Mumi tersebut bernama Wim Motok Mabel dari suku Dani. Wim berarti perang, Motok artinya panglima dan Mabel ialah nama mumi itu. Semasa hidupnya, Mabel ialah panglima perang yang sangat disegani di Lembah Baliem.

Ketika menjelang kematian, Mabel berpesan agar jenazahnya diawetkan. Tujuannya agar anak cucunya bisa mengenang betapa diseganinya Mabel saat masih hidup.

Seiring berjalannya waktu, mumi Wim Motok Mabel bukan hanya menjadi pengingat masa lalu, melainkan juga penarik minat wisatawan untuk datang ke sebuah desa di Distrik Kurulu.

Usia mumi Wim Motok Mabel bisa dihitung dari jumlah tali yang ditambahkan setiap tahunnya. Mumi ini tampak sangat ringkih, terlihat kulit yang mulai mengelupas.

Mulutnya mengaga seakan menjerit saat menghadapi kematian. Warna mumi menghitam akibat proses pengawetan. Agar tetap awet, mumi ini disimpan di kondisi khusus di dalam honai, rumah tradisional Papua.

Pengawetan mumi butuh proses panjang sekitar 200 hari. Mumi akan dilumuri minyak babi kemudian diawetkan di dalam honai. Mumi akan diasapi selama 200 hari hingga mengering dan mengeras.

Kamu harus mengeluarkan uang sekitar ratusan ribu untuk berfoto sepuasnya dengan mumi. Para warga juga menjual kerajianan tangan yang bisa dibeli sebagai suvenir.

Sebenarnya di Papua bukan hanya Wim Motok Mabel yang menjadi mumi hingga berusia ratusan tahun. Di Aikimia, terdapat mumi berusia 250 tahun bernama Werupak Elosak. Semasa hidupnya, ia merupakan seorang kepala suku.

Ia dikenal ramah dan bijaksana. Karena hal itu, penduduk enggak membakar jasadnya. Werupak Elosak diawetkan untuk dikenang jasanya hingga sekarang.